Wakil Bupati Rayakan Ultah ke-62

Ditulis Oleh Admin On 7:02 AM

Wakil Bupati Jepara Subroto sedang memotong tumpeng dalam perayaan Ultahnya ke-62, Senin (4/5/15). (MURIANEWS/WAHYU KZ.

JEPARA - Wakil Bupati Jepara Subroto, Senin (4/5/15) merayakan ulang tahun (ultah) ke-62. Perayaan ultah tahun ini dirayakan secara sederhana, dengan berdoa dan melakukan pemotongan tumpeng di teras kantor Sekretariat Daerah (Setda) Jepara.

Perayaan sederhana ini dihadiri segenap kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan staf Setda Jepara. Sesederhana suasananya, harapan Wakil Bupati di ulang tahunnya yang ke-62 ini juga cukup sederhana. Dia berdoa agar dirinya tetap dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bangsa dan negara.

Bertambah atau berkurangnya umur dalam sebuah perayaan ulang tahun menurut Wakil Bupati hanyalah sebuah istilah. Karena pada hakekatnya siapapun yang hidup didunia ini tentunya akan menuju pada sebuah titik untuk kembali kepada Allah.

”Dengan berkurangnya umur,  kita berharap umur kita bertambah. Dengan harapan agar bisa memiliki waktu yang lebih untuk memperbanyak amal kebajikan, sebagai bekal kita di akhirat yang abadi,” ujar Subroto. 

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi berharap agar ke depan, pasangannya dalam memimpin Jepara senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan lindungan Allah SWT. Yang terpenting lagi, semoga dapat lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

”Sehingga ke depan benar-benar menjadi umatnya yang khusnul khotimah. Bahagia di dunia dan akhirat kelak,” harapnya. (WAHYU KZ/ TITIS W)

Sumber : http://www.murianews.com/

Bupati dan Wabup Jepara Dituding lakukan Pencitraan

Ditulis Oleh Admin On 11:59 AM

JEPARA – Banyak sekali yang sedang mencoba menelaah, sebenarnya ada apa di balik kebijakan penutupan tempat karaoke di Kabupaten Jepara, pada Jumat (10/4) lalu. Salah satunya muncul tudingan bahwa kebijakan ini adalah bagian kebijakan politis demi pencitraan kepala daerah saja. Hal ini memang menjadi perbincangan di kalangan pengusaha tempat karaoke, yang harus menerima jika lokasinya mencari nafkah, ditutup. ”Bukan tidak mungkin, bahkan besar kemungkinannya, kebijakan penutupan usaha karaoke ini ditumpangi muatan politis, dan pencitraan ” ujar salah satu pengusaha karaoke di Jepara, Aris,

Menurutnya, pihaknya tidak bisa memastikan satu tokoh saja yang menjadi ”dalang” di balik kebijakan tersebut. Pasalnya, dia menganggap masing-masing tokoh memiliki niatan politis tertentu.
”Masing-masing memiliki peran. Dan peran mereka itu yang ingin ditunjukkan, agar kesan di masyarakat Jepara seolah-olah baik. Mereka seolah ingin menunjukkan ”ini lho, kerja saya” kepada banyak orang,” katanya.

apalagi saat imi masa kepemimpinan pasangan bupati dan wakil bupati, Ahmad Marzuqi dan Subroto, tinggal menyisakan dua tahun saja. Masa seperti ini, dinilai efektif untuk memulai investasi citra diri, agar nanti mampu mendapatkan dukungan dari masyarakat. ”Seolah-olah, mereka menjadi pahlawan dalam memberantas minuman keras (miras) dan prostitusi. Tapi justru kami yang menjadi korban mereka,” terangnya.

jika memang yang jadi masalah adalah miras dan protitusi terselubung, yang diberantas semestinya adalah masalah tersebut. Bukan karaokenya.

”Karaoke itu kan, hiburan. Masalah miras, kami siap tanpa miras jika ada aturan yang jelas. Kemudian masalah prostitusi terselubung, jangan mengkambing hitamkan kami. Prostitusi terselubung dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Bahkan di sekolah maupun di kampus,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqimenegaskan bahwa kebijakan penutupan karaoke, murni atas desakan dari masyarakat. Di mana kemudian dirapatkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Jepara, dan menghasilkan kebijakan penutupan tersebut. ”Ini semata-mata untuk kebaikan Kabupaten Jepara yang terkenal sebagai kota reliji, kota santri.

Dia mengatakan, banyaknya pondok pesantren, madrasah diniyah (madin), TPQ, masjid, serta musala, menunjukkan bukti bahwa Jepara merupakan kota reliji. Kebijakan penutupan karaoke tersebut sebagai salah satu upaya untuk memperkuat citra kota religi. ”Di samping ingin memberantas miras dan prostitusi terselubung,” katanya.

Senada dengan Marzuqi, Wakil Bupati (Wabup) Jepara Subroto juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, karaoke menjadi sumber banyaknya perilaku yang tidak baik. Dan memiliki potensi terjadinya hal-hal yang tidak baik juga. ”Misalnya mabuk-mabukan hingga perceraian. Saya ingin, khusus tempat karaoke di Pungkruk itu, nanti ditata dengan baik. Dialihkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat,” kata Subroto. 

(Wahyu KZ / Sundoyo Hardi http://www.murianews.com/…/11361-bupati-wabup-jepara-ditudi… )

Program Masa Depan

Ditulis Oleh Admin On 3:26 AM

Kepala Desa Kalipucang Kulon mempunyai beberapa rencana, diantaranya:
1. Membangun Trotoar dari Perempatan Kalipucang sampai pertigaan jembatan Pasar Benguk.

2. Memperlebar jalan aspal dari Perempatan Kalipucangwetan sampai pertgaan jembatan Pasar Benguk.

3. Membangun trotoar di sebelah barat jalan raya Gotri-Welahan

4. Membangun Gapura bertuliskan Kalipucang Kulon Sentra Batu Bata

5. Membina dan membimbing warga Kalipucang Kulon untuk bertani Jeruk Wangi terutama Dukuh Jeruk Wangi. Karena Bertani Jeruk Wangi tidak harus di kebun/sawah, tetapi menanam jeruk wangi bisa ditanam dipekarangan rumah di halaman belakang maupun depan rumah. Sehingga warga bisa mempunyai penghasilan tambahan.

6. Membina dan membimbing supaya pemilik industri batubata untuk memberi merk dagang pada batu bata yang dicetak, supaya memiliki persaingan dagang yang kompetitif sehingga menguntungkan bagi pemilik industri batu bata

Profil SMA Negeri 1 Welahan

Ditulis Oleh Admin On 3:12 AM


Jepara – SMA Negeri 1 Welahan (SMAN 1 Welahan) berdiri pada tahun pelajaran 1993/1994. Semula bertempat di SMA Negeri 1 Pecangaan, Mengingat belum disiapkan Unit Gedung Belajar (UGB) di welahan. Dengan tenaga guru dan TU dari SMA Negeri 1 Pecangaan.

Pada Tahun 4 April 1994 tepatnya enam bulan kemudian SMA Negeri 1 Welahan dapat menempati gedung baru yang berlokasi di Jalan Raya Welahan Km. 3. Berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0260/C/94 disahkan sebagai sekolah negeri yang pengelolaannya menjadi tanggung jawab pemerintah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

SMAN 1 Welahan memiliki tempat yang cukup strategis dan memiliki potensi yang dapat dikembangkan, karna terletak di Jalan Raya Welahan, jalan raya yang satu-satunya menghubungkan Jepara dengan Semarang.

SMA Negeri 1 Welahan Jepara merupakan sekolah yang dinanti-nanti masyarakat sekitar mengingat belum adanya sekolah menengah negeri di kecamatan paling selatan di Kabupaten Jepara tersebut. Diharapkan dengan berdirinya SMAN 1 Welahan tersebut dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan juga dapat mendorong kemajuan tingkat ekonomi serta pendidikan di Kecamatan Welahan.

Sejak awal SMA Negeri 1 Welahan senantiasa memiliki visi untuk mendidik, melatih siswa menjadi generasi cerdas, terampil, sholih, dan mandiri, sebagai jawaban atas tantangan arus globalisasi dimasa yang akan datang.


Alamat SMA Negeri 1 Welahan :
SMA Negeri 1 Welahan
Jl. Raya Welahan, Jepara 59462
Telp. (0291) 3317167
Email: tatausaha[at]sman1welahan.sch.id, esemanela[at]gmail.com

Kesenian Emprak

Ditulis Oleh Admin On 2:23 AM

Kesenian Emprak yang populer di Jepara sekitar tahun 1980-an, kini sudah mulai hilang, tergantikan pergelaran musik dangdut, campursari, hingga pop, yang semakin merangsek ke desa-desa.

Emprak, merupakan kesenian tradisional yang dipopulerkan oleh Kyai Derpo tahun 1927 silam. Kesenian yang berasal dari Pleret (Mejing), Gamping, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan sarana untuk menyiarkan Islam dengan pembacaan tarikh (sejarah) Nabi. Kata emprak, berasal dari bahasa Arab imro’a yang berarti ajaklah: mengajak orang untuk menuju kebenaran ajaran Islam pada saat itu.

Di kabupaten Jepara, kesenian emprak sangat populer sekitar tahun 80-an. Hampir setiap hajatan (khitan maupun pernikahan) kesenian yang biasanya dipentaskan selama 8 jam (21.00-05.00) ini menjadi alternatif tontonan (hiburan) warga. Pada saat itu juga kesenian ini juga sering manggung--keliling desa satu ke desa lain.

Biasanya, kesenian yang dimainkan dengan pelbagai alat musik (kendang, kenting, kentung, ketuk, gong, kentongan, dan rebana) ini merupakan kolaborasi antara musik, cerita banyolan, tari, dan lantunan shalawat. Sesekali cerita berupa sejarah Nabi dengan pembacaan al-Barjanzi bisa juga sejarah perkembangan kota Jepara. Adapun bagi pemain berkostum ala pegunungan dan tidak ketinggalan tetap memakai kupluk (kopyah) bayi.

Memprihatinkan
Tahun 80-an silam barangkali sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Apa sebab? Dulunya, sentra kesenian emprak berpusat di beberapa kecamatan: mulai Bangsri, Mlonggo, Keling, Pakis Aji dan Kembang. Namun saat ini eksistensinya telah dimakan oleh kejamnya zaman. Sebab, kondisinya kini semakin memprihatinkan. Komunitas Emprak Sidomukti (asal Kepuk, Bangsri) pimpinan Kasturi dan kawan-kawan saja yang masih bertahan.

Kondisi itu, tentunya dipengaruhi oleh maraknya musik beraliran kontemporer: dangdut, pop, rock dan jazz. Sehingga, emprak barangkali dianggap pertunjukan jadul yang tidak layak lagi dipertontonkan untuk sekarang ini.

Dalam rangka menjaga eksistensi warisan nenek moyang itu, ada ikhitar baik yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) kabupaten Jepara bidang kebudayaan yakni kesenian emprak akan dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada (28/07) mendatang. Mereka akan menjadi duta budaya asal Jepara. Sehingga secara tidak langsung kesenian emprak masih menjadi salah satu ikon budaya resmi asal kota Jepara (Radar Kudus, 05/04).

Diakui atau tidak: kesenian yang masih digeluti oleh Kasturi dan kawan-kawan ini sebenarnya dipengaruhi oleh minimnya regenerasi. Tentunya penerus emprak pasca Kasturi dkk belum ditemukan. Sehingga mudahnya kesenian ini akan menanti ajalnya jika tidak segera dicarikan generasi-generasi baru.

Masalah regenerasi barangkali bisa diatasi dengan dipelajari oleh semua kalangan utamanya kalangan yang berkecimpung dalam bidang kesenian. Emprak tentunya bisa masuk dan dipelajari maupun dipentaskan oleh pelajar maupun mahasiswa. Mudahnya, agar kesenian ini tetap eksis penggiat seni di sekolah, kampus maupun komunitas yang mendalami kesenian sudah saatnya menggelutinya. Jika hal itu dilakukan, alhasil emprak akan tetap lestari.

Penulis pun sepakat dengan apa yang akan dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Jepara bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Jepara. Kedua lembaga ini berencana akan memasukkan kurikulum kesenian tradisional di bangku sekolah: salah satunya pendalaman materi tentang kesenian emprak. Selain itu: materi tentang wayang klitik dan ludruk (Radar Kudus, 05/04).

Perlu Diselamatkan
“Mustahil,” hal itu yang bisa saya katakan, barangkali saat ini tidak akan ditemukan warga Jepara rela nanggap (baca: diundang untuk pentas) emprak setiap kali ada hajatan (khitan maupun pernikahan) digelar. Sebaliknya, mereka akan lebih mantap manakala mendatangkan orkes dangdut dengan goyangan-goyangan yang asoi dan aduhai. Atau, band-band lokal yang siap menghibur tuan rumah.

Tanpa undangan resmi: kedua tontonan tersebut seringkali dibanjiri oleh fans (penggemar) beratnya. Meski terkadang ajang adu jotos kerap mewarnai pertunjukan itu yang disebabkan dendam sebelumnya ataupun akibat minum-minuman keras sehingga: senggol dikit langsung jotos.

Tentunya hal itu akan berbalik 360 derajat manakala emprak dipertontonkan. Apa sebab? Meski kesenian ini barangkali tidak akan mengundang kejahatan, namun jika dipertontonkan barangkali akan sepi oleh pengunjung.

Nah, kesenian ini sudah saatnya untuk diselamatkan sebelum ajalnya tiba. Pemerintah daerah semestinya sering mempertontonkan emprak pada acara resmi yang diselenggarakan oleh kabupaten. Semisal: peringatan hari jadi kota Jepara, hari Kartini dan acara resmi yang lain.

Selain itu, Festival Emprak juga layak diadakan. Hal ini tentunya untuk memikat generasi muda untuk menggeluti kesenian yang hampir punah ini. Para peminat dan pecinta seni seharusnya juga memperhatikan kesenian ini untuk dipelajari dan dilestarikan keberadaannya.

Emprak, merupakan kesenian tradisional islami yang kudu diselamatkan. Islami dalam arti pembacaan sejarah Nabi diiringi dengan alunan musik, tari, juga cerita banyolan yang sering menghiasi pagelaran kesenian ini. Upaya penyelamatan brilian oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang akan menggelar pentas emprak di TMII Juli mendatang tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Akan tetapi, juga diperlukan agenda brilian yang lain.

Pun demikian, rintisan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga yang berencana akan memasukkan materi kesenian tradisonal (emprak: salah satunya) dalam muatan lokal di bangku sekolah bukan hanya sekadar wacana akan tetapi perlu direalisasikan secepatnya. Sehingga, kesenian ini bisa menuai kejayaan kembali laiknya tahun 80-an silam. Semoga!

Sumber :
http://citizennews.suaramerdeka.com/
Syaiful Mustaqim, peneliti Smart Institute Jepara dan instruktur juranlistik Dewandaru Jepara Society 

Asal Usul Nama JEPARA

Ditulis Oleh Admin On 7:07 PM

Pada zaman dulu sebelum saya DIlahirkan kata JEPARA berasal dari kata UJUNGPARA. Kata UJUNG karena letaknya berada di ujung pulau jawa seperti yang terlihat dalam peta, sedangkan kata PARA karena dahulu ada orang dari Majapahit yang sedang berjalan melewati daerah yang sekarang disebut Jepara, melihat nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya "membagi" dalam bahasa jawa adalah "Para" (dibaca: Poro), maka pengembara tersebut menceritakan di kota tujuannya bahwa dia melewati Ujung Para karena dia melewati ujung pulau Jawa yang ada yang membagi ikan.

Yang kemudian berubah menjadi UJUNG MARA, dan JUMPARA, yang akhirnya berubah menjadi JAPARA dan pada tahun 1950an diubah menjadi JEPARA sampai sekarang ini.

Seperti halnya dengan daerah lain seperti daerah Cibubur sebelum menjadi CIBUBUR, daerah tersebut dinamakan CINASI. Karena saat masak nasinya airnya kebanyakan dan di aduk-aduk terus akhirnya menjadi ci bubur, tetapi sebelum menjadi cinasi sebelumya dinamakan ciberas, cigabah dan cipadi
Selamat hari jadi Jepara 466

Sumber : Info Seputar Jepara